30 April 2010
Pelatihan Mekidung untuk Anggota KMH ITB
KMH Vidya Dharma Putra Ganesha ITB baru-baru ini mengadakan acara pelatihan mekidung bagi seluruh anggota KMH ITB. Dalam pelatihan mekidung ini, KMH mengundang Ibu Endang selaku Ketua WHDI Cimahi untuk memberikan pembekalan kepada anggota KMH ITB tidak hanya mengenai bagaimana mekidung yang baik, tetapi juga memberikan kami semua bekal bagaimana kita sebagai umat Hindu seharusnya bersikap. Selain itu beliau juga memberikan motivasi kepada kita para mahasiswa untuk kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi di tengah jadwal kuliah dan kegiatan yang padat.
Pelatihan mekidung dilaksanakan pada hari Jumat, 9 April 2010 bertempat di ruang 9016 gedung Oktagon ITB. Pelatihan mekidung tersebut berlangsung selama dua jam, mulai pada pukul 11.00 sampai dengan 13.00. Meskipun hanya dua jam, pelatihan tersebut memberikan banyak hal kepada kami yang hadir pada pelatihan tersebut.
Sebagai pembukaan, Ibu Endang menceritakan pengalaman hidupnya, bagaimana ia mulai memeluk Agama Hindu (Ibu Endang memeluk Agama Hindu baru setelah ia menikah dengan suaminya), bagaimana ia berusaha keras untuk ‘mempelajari’ Agama Hindu dan bagaimana ia merasakan kuasa Ida Sang Hyang Widhi yang selalu memberikan kemudahan dalam setiap masalah yang ia hadapi. Dari cerita-cerita beliau tersebut, beliau ingin menyampaikan pesan kepada kita untuk selalu ‘dekat’ dengan Ida Sang Hyang Widhi dengan cara lebih rajin sembahyang, dan berusaha memahami ajaran weda.
Setelah itu, beliau juga bercerita tentang makna dari mekidung dan cara mekidung yang baik. Beliau juga mencontohkan beberapa kidung, seperti: kidung pamendak, penghayatan wargasari, dan kidung turun tirta.
Sebelum pulang, Ibu Endang memberikan buku panduan untuk doa sehari-hari kepada anggota KMH ITB. Jika ada teman-teman anggota KMH ITB yang ingin memiliki buku tersebut, buku tersebut ada di sekretariat KMH ITB dan dapat diperbanyak. Besar harapan kami sebagai anggota KMH ITB untuk dapat ngayah mekidung pada saat Purnama atau pada saat piodalan di pura-pura, untuk itu acara pelatihan mekidung ini terasa sangat bermanfaat bagi kami.
(Ratih)
Om Santi, Santi, Santi Om
15 Maret 2010
Hening Menuju Jalan Dharma
11 Agustus 2008
Global Warming, dalam sudut pandang Hindu
Kita tentu sadar bahwa setiap hari matahari menyinari bumi. Akan tetapi selain cahaya, sinar matahari juga mengirim radiasinya ke bumi. Radiasi matahari berupa sinar ultraviolet ini sebagian ada yang dipantulkan oleh bumi dan atmosfir, dan sebagian lagi ada yang menembus atmosfir kemudian diserap oleh permukaan bumi. Radiasi yang diserap ini membuat bumi terasa hangat di siang hari. Pemanasan yang alami dan cukup membuat alam dan kehidupan di bumi hidup dengan normal.
Semakin berkembangnya peradaban, manusia mulai menciptakan dan membangun berbagai macam teknologi. Tentunya dengan mengambil sumber daya dari alam. Baik langsung maupun tak langsung, teknologi ini menghasilkan sampah atau buangan yang menghasilkan ra
diasi berupa panas (radiasi inframerah). Sebagian panas dapat mengalir keluar bumi menembus atmosfer, tetapi sebagian lagi dipantulkan oleh atmosfer dan kembali ke bumi. Panas tambahan (yang besar) yang dihasilkan manusia ini membuat keseimbangan di atmosfer bumi terganggu, menyebabkan atmosfer (bagian dalam) semakin tipis. Akibatnya radiasi ultraviolet matahari yang tadinya dipantulkan oleh atmosfer bumi, sedikit demi sedikit menembus dan diserap oleh bumi, yang kemudian membuat temperatur di bumi menjadi sangat panas.Dr. Durgesh Samant, seorang pembicara nasional dan anggota Hindu Janajagruti Samiti mengatakan, “Pemahaman kita akan global warming mungkin akan sedikit terbuka ketika para ilmuwan di seluruh dunia mendeklarasikan kalimat-kalimat berikut:
- Temperatur dunia akan meningkat 6.4 derajat Celcius pada akhir abad ini, akan berakibat penderitaan yang sangat hebat bagi umat manusia.
- Bukan alam, tetapi manusia (perbuatan manusia) sendiri yang harus bertanggung jawab pada masalah global warming. Mereka telah mengatakan bahwa kehancuran yang terjadi, bukan disebabkan oleh salah satu siklus fenomena alam, yang merusak bangunan dan fasilitas manusia.
- Meminta orang-orang untuk menjaga dan menghargai alam.
Pikiran manusia mengekspresikan beraneka ragam tindakan. Para ilmuwan telah mengatakan, sebagian tindakan-tindakan inilah yang menyebabkan global warming. Lalu muncul pertanyaan dalam setiap diri kita, “Mengapa manusia bertindak pada jalur yang salah selama bertahun-tahun?” Ini karena pikiran manusia membuat manusianya melakukannya. “Tetapi mengapa pikiran kita tidak mampu memilih arah yang benar?” Di sini kunci permasalahannya. Banyak kejadian suatu ideologi seseorang membimbing pikirannya untuk bertindak dengan cara tertentu. Pikiran kita menentukan apa yang benar dan apa yang salah berdasarkan ideologi yang mempengaruhinya. Pada jalan ini, ia menentukan serangkaian tindakan yang menurutnya dapat ia lakukan. Jadi akan lebih baik jika kita menganalisis ideologi-ideologi yang mempengaruhi pikiran manusia untuk mencari tahu mengapa tindakan manusia dalam hal ini mengarah pada jalur yang salah.
Pikiran yang dipengaruhi oleh ideologi-ideologi tertentu lalu tidak mampu berpikir untuk menjaga bumi ataupun membatasi eksplorasinya. Seseorang mungkin bertanya, “Mengapa mencari kebahagian batin dan memuja alam itu penting? Apakah tidak cukup dengan berhati-hati dengan alam?” Jawabannya adalah, “Tidak!” Di sini ‘berhati-hati dengan alam’ adalah pikiran pada level dangkal atau usaha yang dibuat pikiran setelah muncul penjelasan atau pengertian tentang suatu bahaya. Sebaliknya ‘pemujaan’ menanamkan tidak hanya kualitas dalam menjaga tetapi juga rasa terima kasih kepada alam. Seseorang dapat mengerti lautan perbedaan antara pikiran, yang menjaga agar perbuatannya yang tidak diinginkan mempengaruhi alam dan usaha seseorang, yangmana tindakannya mempengaruhi alam dikuasai oleh rasa terima kasih kepadanya. Hal ini, jika disatukan dengan ideologi, akan membimbing pikiran untuk menyadari adanya Tuhan atau ‘kebahagiaan’ pada alam. Dengan menggunakan alam sesuai kebutuhan, terus terang kita akan membuat perbedaan besar. Pikiran yang mencari kebahagiaan dari hal-hal materiil atau penemuan lain akan selalu berakhir dengan tindakan yang merusak/mengganggu alam. Jika dua prinsip ini, mencari kebahagiaan batin dan memuja alam, menjadi bagian integral dari ideologi-ideologi (keyakinan dalam agama) yang menguasai pikiran manusia, maka kita tidak perlu khawatir akan masalah global warming selama beberapa generasi akan datang.
Dalam perbedaannya dengan ideologi-ideologi lain, Sanata Hindu Dharma (Hindu) bersinar dengan ‘keunikkannya’. Pada ajaran Hindu terdapat pemujaan kepada alam dalam berbagai cara. Tujuannya adalah tidak lain agar kita selalu menjaga dan menghargai alam sekitar kita. Sebagai contoh, salah satu ajaran Hindu mengatakan pada pengikutnya untuk memuja alam ibu pertiwi dengan membuat sesaji atau banten, yang kemudian diletakkan di tempat suci (pura kecil di rumah) dan di pekarangan/kebun. Dengan meletakkan sesaji di tempat suci dan pekarangan, kita artinya berterima kasih pada Tuhan dan juga menjaga kelestarian alam sekitar kita. Umat Hindu mempercayai keberadaan Tuhan di alam, dan menempatkan tujuan utamanya (mencapai moksa/kebahagiaan sejati) diatas kepentingan lain selama hidupnya.
Pada akhir tulisannya, Dr. Durgesh mengatakan hal ini, “Before I conclude, I must say that this small article is just to provoke some thoughts in the reader’s minds. It is not an argument. It is my humble suggestion to scientists and those who are genuinely concerned about global warming to study Hinduism and other ideologies from this point of view.“
Om Santi3x Om
*tulisan asli Dr. Durgesh Samant berjudul "Global Warming and Christianity, Islam, Capitalism, Sosialism" dapat dilihat di sini.
06 Agustus 2008
Melayang saat meditasi? -> ini rahasianya :)
Pertunjukan Manusia Melayang Dijelaskan Secara Fisika...Rabu, 6 Agustus 2008 | 19:18 WIBSANUR, RABU - Ratusan siswa dari Asia, sebagian besar asal Indonesia, yang mengikuti Asian Science Camp di Sanur, Bali, Rabu (6/8) dihadapkan pada tantangan memecahkan fenomena mistis secara logis melalui ilmu fisika. Fenomena mistis tersebut seperti kemampuan manusia melawan gravitasi dengan melayang di udara tanpa media apapun, yang ternyata bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.
Mereka disuguhkan peragaan langsung rahasia ilmu fisika melalui enam orang bermeditasi dan keenamnya kemudian bisa lompat melayang di udara walau hanya beberapa detik. Walau menghasilkan kekaguman dan hampir tidak masuk akal, ternyata semua ada penjelasan teori dan logikanya menggunakan ilmu fisika.
"Keadaan seseorang dapat melayang di udara karena mengalami yang disebut transcendental meditation (TM). Dalam tubuh mereka telah terjadi kinerja otak yang koheren, sehingga dapat melayang," ujar ahli TM Regianto. Ahli TM lainnya, I Wayan Sutrisna, menjelaskan bahwa fenomena tersebut sangat masuk akal dan dapat dijelaskan melalui teori fisika "Meissner Effect" atau teori tentang ketahanan dengan koherensi.
Dalam teori "Meisnner Effect", terbukti elektron yang disorder atau tidak beraturan dapat dengan mudah ditembus medan magnet. Sedangkan elektron yang koheren, tidak dapat ditembus medan magnet.
"Inilah mengapa pikiran yang koheren dapat menangkal energi negatif dan tubuh kita bisa melayang di udara atau Yogic Flying," katanya.
Dijelaskan, dengan TM seseorang akan memancarkan energi positif, yang secara tidak langsung merangsang zat seretonin dalam tubuh yang membantu menjadi bahagia. Dalam TM Sidi, melayangkan tubuh bukanlah tujuan utama, tetapi yang dikehendaki adalah keselarasan dalam berpikir dan kesehatan tubuh."Bahkan dampak positif tersebut tidak hanya dapat dirasakan orang yang bermeditasi tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya," tambah Sutrisna pada ASC kedua yang berlangsung 6-9 Agustus 2008.
WAH
Sumber : Antara
Waw, hebat yah, kapan2 boleh tuh dicoba dengan TM. Daripada bengong ato ngelamun yg gak jelas :P, sapa tau nanti bisa terbang beneran kaya Batman ato Superman :P
Om santi3x om..
25 Juli 2008
Meramal watak lewat weton/wariga - versi Hindu
Temen2 yang tinggal di Bali, atau yang orangtuanya 'asli' Bali mungkin pernah mendengar tentang wariga ini. Wariga didasarkan atas perhitungan kalender bali, yang terdiri atas ekawara(1), dwiwara(2), triwara(3), ... , sangawara(9), dasawara(0), lintang, watek, dll. Saat ini pada kalender bali perhitungan2 itu masih digunakan, akan tetapi yang dilihat umumnya pancawara(5) dan saptawara(7). Uniknya, dibandingkan kalender-kalender lain yang menggunakan peredaran benda langit sebagai dasar perhitungan (contoh: matahari pada kalender masehi, bulan pada kalender islam), kalender bali tidak menggunakan benda langit apa pun dalam perhitungannya.
Tiap komunitas di dunia pada dasarnya memiliki kalender sendiri-sendiri. Akan tetapi yang digunakan secara internasional adalah kalender masehi. Tujuan adanya kalender itu sendiri ada bermacam-macam, biasanya tujuan itu mengacu pada komunitas yang mengikuti kalender tersebut. Kalender bali, selain menunjukkan waktu dan pergantian musim, juga sering digunakan untuk menunjukkan hari baik serta sifat orang yang lahir.
Ya, seperti iklan content hp di tv itu, kita juga bisa meramal watak kita atau teman2 kita dari hari lahirnya menurut kalender bali. Tetapi yang jadi masalah, kapan kamu lahir klo menurut kalender bali? Nah lho >.< .. Bisa sih dicari klo mau ngitung dari tahun skr, silakan dicoba :P. Sebenernya ada cara yang lebih mudah. Dengan teknologi komputerisasi, perhitungan itu dikerjakan oleh komputer sehingga dari tanggal lahir kita pada kalender masehi, dapat diketahui hari lahir kita menurut kalender bali. Programnya dapat dilihat di babadbali.com atau klik di sini.
Selamat mencoba.
Om Santi3x Om
17 Juli 2008
KMH ? --> Kamu Masih Hindu ?
Barusan ke kampus, bukan urusan penting sih, tp akhirnya dapet manfaat juga :D. Td ada temen ngasi cerita 'joke' ( ... jgan dianggap serius ya :)). Dari dulu di iTb klo pas acara penerimaan mhs baru, kan suka ada kumpul mentoring agama sama mhs barunya. Sedihnya buat kalangan minoritas seperti KmH dan kmb, kadang suka harus bergerilya mencari mhs baru yang seiman :P. Untuk memudahkan sering temen2 biasanya kita bawa papan ato kardus yang ada tulisannya KmH, biar mhs-mhs baru itu bisa tau dimana 'saudara seimannya' :P. Tapi ada juga yang saking semangatnya teriak-teriak kaya orang jualan, "KMH.. KMH.. kamu KMH? ... KMH?"
Masalah muncul ketika mhs-mhs baru itu gak tau apa maksudnya KmH, karena di sma mereka dulu gak ada istilah macam bgitu. Suatu ketika, di hari kumpul mentoring agama para mhs baru, keluar dan mencari kakak-kakak mentoringnya.
bli Baguss (mhs veteran) : "KMH.. KMH.. ... "
(... sekitar 100-an mhs baru, lewat begitu saja)
bli Baguss :"KMH.. woi, disini... yang merasa KMH..", berteriak lebih keras, "KMH.. KMH.. "
(... setelah 500-an mhs baru lewat)
Ronaldo (mhs baru) : "Saya Hindu kak, disini ya?"
bli Baguss : "Ya, disini aja dulu. Tunggu yang lain." Merasa ada hasil bli Baguss semakin bersemakat berteriak, "KMH... KMH.. KMH.. disini woi."
(... setelah semuanya lewat, hanya 5 orang mhs baru bersama bli Baguss)
bli Baguss : "Kayanya cm segini aja, yuk kita kumpul."
(... di tengah jalan, melihat mentornya kecapekan karena teriak-teriak, Ronaldo bertanya)
Ronaldo : "Kak, td kenapa sih teriak-teriak? Knapa gak langsung aja tarik anak2 yg namanya Gede, Made, Putu, ... (dsb), kan lebih cepet dan gak capek2 teriak2."
bli Baguss : "Dulu sih masi bisa Dik, klo sekarang musti teriak2."
Ronaldo : "Lah, knapa? emang apa artinya ka-em-ha?"
bli Baguss : " ... Kamu Masih Hindu?"
Ronaldo : "?????"
...(cerita hanya fiksi belaka, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan)
Om santi3x om


