Om Swastyastu, selamat datang di blog KMH Vidya Dharma Putra Ganesha - ITB :: Hubungi Kami di kmhitb@gmail.com

11 Agustus 2008

Global Warming, dalam sudut pandang Hindu

[KmH iTb],Bandung. Om Swastyastu. Saat ini isu global warming telah menjadi topik hangat di berbagai belahan dunia.Global Warming adalah suatu kondisi meningkatnya temperatur rata-rata permukaan bumi, yang diukur pada udara di sekitar permukaan laut (sumber: Wikipedia). Penyebab utamanya adalah suatu kejadian yang dinamakan ‘The Greenhouse Effect’ atau ‘efek rumah kaca’.

Kita tentu sadar bahwa setiap hari matahari menyinari bumi. Akan tetapi selain cahaya, sinar matahari juga mengirim radiasinya ke bumi. Radiasi matahari berupa sinar ultraviolet ini sebagian ada yang dipantulkan oleh bumi dan atmosfir, dan sebagian lagi ada yang menembus atmosfir kemudian diserap oleh permukaan bumi. Radiasi yang diserap ini membuat bumi terasa hangat di siang hari. Pemanasan yang alami dan cukup membuat alam dan kehidupan di bumi hidup dengan normal.

Semakin berkembangnya peradaban, manusia mulai menciptakan dan membangun berbagai macam teknologi. Tentunya dengan mengambil sumber daya dari alam. Baik langsung maupun tak langsung, teknologi ini menghasilkan sampah atau buangan yang menghasilkan radiasi berupa panas (radiasi inframerah). Sebagian panas dapat mengalir keluar bumi menembus atmosfer, tetapi sebagian lagi dipantulkan oleh atmosfer dan kembali ke bumi. Panas tambahan (yang besar) yang dihasilkan manusia ini membuat keseimbangan di atmosfer bumi terganggu, menyebabkan atmosfer (bagian dalam) semakin tipis. Akibatnya radiasi ultraviolet matahari yang tadinya dipantulkan oleh atmosfer bumi, sedikit demi sedikit menembus dan diserap oleh bumi, yang kemudian membuat temperatur di bumi menjadi sangat panas.

Dr. Durgesh Samant, seorang pembicara nasional dan anggota Hindu Janajagruti Samiti mengatakan, “Pemahaman kita akan global warming mungkin akan sedikit terbuka ketika para ilmuwan di seluruh dunia mendeklarasikan kalimat-kalimat berikut:
  1. Temperatur dunia akan meningkat 6.4 derajat Celcius pada akhir abad ini, akan berakibat penderitaan yang sangat hebat bagi umat manusia.
  2. Bukan alam, tetapi manusia (perbuatan manusia) sendiri yang harus bertanggung jawab pada masalah global warming. Mereka telah mengatakan bahwa kehancuran yang terjadi, bukan disebabkan oleh salah satu siklus fenomena alam, yang merusak bangunan dan fasilitas manusia.
  3. Meminta orang-orang untuk menjaga dan menghargai alam.
“Pada poin ini, khususnya poin 2, harus kita pikirkan dengan serius, tidak hanya untuk mencari obat atau solusi dari penderitaan manusia, tapi juga memikirkan ‘akar’ yang bertanggung jawab terhadap tragedi ini. Di sini kita sebut ‘akar’, bukan berarti ‘penyebab’ seperti meningkatnya kadar CO2 di atmosfir, dsb, tetapi ‘penyebab’, yang membuat manusia menjadi sangat ‘destruktif’ dan sangat ‘tidak bertanggung jawab’ sehingga membuat masalah yang sangat besar. Saya kira kita harus memberi perhatian serius pada aspek ini, tentunya tidak hanya untuk kepentingan akademik,” Kata beliau.

Pikiran manusia mengekspresikan beraneka ragam tindakan. Para ilmuwan telah mengatakan, sebagian tindakan-tindakan inilah yang menyebabkan global warming. Lalu muncul pertanyaan dalam setiap diri kita, “Mengapa manusia bertindak pada jalur yang salah selama bertahun-tahun?” Ini karena pikiran manusia membuat manusianya melakukannya. “Tetapi mengapa pikiran kita tidak mampu memilih arah yang benar?” Di sini kunci permasalahannya. Banyak kejadian suatu ideologi seseorang membimbing pikirannya untuk bertindak dengan cara tertentu. Pikiran kita menentukan apa yang benar dan apa yang salah berdasarkan ideologi yang mempengaruhinya. Pada jalan ini, ia menentukan serangkaian tindakan yang menurutnya dapat ia lakukan. Jadi akan lebih baik jika kita menganalisis ideologi-ideologi yang mempengaruhi pikiran manusia untuk mencari tahu mengapa tindakan manusia dalam hal ini mengarah pada jalur yang salah.

Pikiran yang dipengaruhi oleh ideologi-ideologi tertentu lalu tidak mampu berpikir untuk menjaga bumi ataupun membatasi eksplorasinya. Seseorang mungkin bertanya, “Mengapa mencari kebahagian batin dan memuja alam itu penting? Apakah tidak cukup dengan berhati-hati dengan alam?” Jawabannya adalah, “Tidak!” Di sini ‘berhati-hati dengan alam’ adalah pikiran pada level dangkal atau usaha yang dibuat pikiran setelah muncul penjelasan atau pengertian tentang suatu bahaya. Sebaliknya ‘pemujaan’ menanamkan tidak hanya kualitas dalam menjaga tetapi juga rasa terima kasih kepada alam. Seseorang dapat mengerti lautan perbedaan antara pikiran, yang menjaga agar perbuatannya yang tidak diinginkan mempengaruhi alam dan usaha seseorang, yangmana tindakannya mempengaruhi alam dikuasai oleh rasa terima kasih kepadanya. Hal ini, jika disatukan dengan ideologi, akan membimbing pikiran untuk menyadari adanya Tuhan atau ‘kebahagiaan’ pada alam. Dengan menggunakan alam sesuai kebutuhan, terus terang kita akan membuat perbedaan besar. Pikiran yang mencari kebahagiaan dari hal-hal materiil atau penemuan lain akan selalu berakhir dengan tindakan yang merusak/mengganggu alam. Jika dua prinsip ini, mencari kebahagiaan batin dan memuja alam, menjadi bagian integral dari ideologi-ideologi (keyakinan dalam agama) yang menguasai pikiran manusia, maka kita tidak perlu khawatir akan masalah global warming selama beberapa generasi akan datang.

Dalam perbedaannya dengan ideologi-ideologi lain, Sanata Hindu Dharma (Hindu) bersinar dengan ‘keunikkannya’. Pada ajaran Hindu terdapat pemujaan kepada alam dalam berbagai cara. Tujuannya adalah tidak lain agar kita selalu menjaga dan menghargai alam sekitar kita. Sebagai contoh, salah satu ajaran Hindu mengatakan pada pengikutnya untuk memuja alam ibu pertiwi dengan membuat sesaji atau banten, yang kemudian diletakkan di tempat suci (pura kecil di rumah) dan di pekarangan/kebun. Dengan meletakkan sesaji di tempat suci dan pekarangan, kita artinya berterima kasih pada Tuhan dan juga menjaga kelestarian alam sekitar kita. Umat Hindu mempercayai keberadaan Tuhan di alam, dan menempatkan tujuan utamanya (mencapai moksa/kebahagiaan sejati) diatas kepentingan lain selama hidupnya.

Pada akhir tulisannya, Dr. Durgesh mengatakan hal ini, “Before I conclude, I must say that this small article is just to provoke some thoughts in the reader’s minds. It is not an argument. It is my humble suggestion to scientists and those who are genuinely concerned about global warming to study Hinduism and other ideologies from this point of view.“

Om Santi3x Om

*tulisan asli Dr. Durgesh Samant berjudul "Global Warming and Christianity, Islam, Capitalism, Sosialism" dapat dilihat di sini.

1 komentar:

  1. Waagh,bagian dari tulisan ini pernah saya kutip di lambodhara dalam rangka menyambut pagarwesi.
    Yupz, saya pikir Hindu banyak sekali peranannya dalam pelestarian alam lingkungan, Karena dalam pemujaannya melibatkan air dan tumbuhan mau gak mau penganutnya harus memelihara kemurnian air dan kelestarian tumbuhan.

    Contoh lainnya : Nyepi

    BalasHapus